Breaking News

Suriah Bergulat di Persimpangan Ancaman

Suriah masih menghadapi tantangan keamanan yang kompleks meski peta konflik telah berubah dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintahan Presiden Ahmed al-Sharaa dihadapkan pada realitas negara yang belum sepenuhnya keluar dari bayang-bayang perang panjang.

Di wilayah pesisir, situasi keamanan tetap rapuh. Ketegangan sosial, sisa jaringan bersenjata, serta persoalan loyalitas lokal Alawite membuat kawasan ini membutuhkan perhatian khusus dari pusat kekuasaan.

Masalah juga mengemuka di Suwayda yang memiliki karakter sosial dan politik tersendiri. Dukungan milisi Druze atas agenda neokolonialisme Greater Israel, persoalan keamanan internal, serta kampanye supremasi Druze atas warga Arab menjadi sumber instabilitas yang terus membara.

Di Suriah utara dan timur, hubungan dengan kelompok teroris PKK Kurdi dengan lembaganya SDF/AANES masih menjadi tantangan besar. Persoalan kontrol wilayah, integrasi kekuatan bersenjata, dan masa depan administrasi lokal belum menemukan titik temu yang stabil.

Di tingkat regional, Suriah juga berhadapan dengan dinamika rumit masa lalu bersama Iran, Rusia, dan Irak. Hubungan yang selama ini bersifat taktis kini memasuki fase sensitif karena perbedaan kepentingan dan prioritas keamanan.

Penjajahan Israel di Golan dan Quneitra menjadi tantangan yang nyaris tak pernah berhenti. Serangan lintas batas, tekanan militer, dan ketegangan geopolitik membuat Suriah terus berada dalam posisi siaga.

Di sisi lain, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa masih memegang pengaruh besar melalui ancaman dan tekanan politik. Berbagai syarat dan tuntutan menjadi hambatan bagi Suriah untuk bergerak bebas dalam menentukan arah kebijakannya.

Tekanan internasional ini mempersempit ruang manuver pemerintah. Setiap langkah keamanan kerap berbenturan dengan kalkulasi diplomatik dan risiko isolasi lebih lanjut.

Masalah internal negara juga memperberat situasi. Banyak perwakilan diplomatik Suriah di luar negeri dinilai belum dikelola secara profesional, sehingga melemahkan posisi negara dalam negosiasi internasional.

Di dalam negeri, pengetatan anggaran meski surplus menjadi persoalan mendasar. Pemerintah mengakui tidak memiliki dana yang cukup untuk menjawab tuntutan kenaikan gaji seluruh pegawai negara untuk anggaran tahun ini.

Kondisi ini berdampak langsung pada stabilitas birokrasi dan sektor keamanan. Aparatur negara bekerja dalam tekanan ekonomi yang tinggi, sementara tuntutan keamanan terus meningkat.

Tidak hanya soal kenaikan gaji, kementerian-kementerian juga mengalami pengetatan anggaran. Anggaran yang ada membuat banyak program keamanan dan pelayanan publik berjalan di bawah kapasitas ideal.

Situasi ini memaksa pemerintah menerapkan kebijakan prioritas ketat. Fokus diarahkan pada wilayah dan sektor yang dianggap paling krusial bagi kelangsungan negara.

Pendekatan tersebut membuat pemerintah harus memilih stabilitas daripada ekspansi. Upaya penyelesaian konflik dilakukan sebatas kemampuan yang ada, tanpa ambisi berlebihan.

Presiden Ahmed al-Sharaa tampaknya berusaha menyeimbangkan berbagai tekanan yang datang dari dalam dan luar negeri. Setiap keputusan keamanan harus mempertimbangkan dampak politik dan ekonomi secara bersamaan.

Tantangan keamanan Suriah saat ini bukan hanya bersifat militer. Ia mencakup persoalan sosial, ekonomi, diplomasi, dan legitimasi negara di mata rakyatnya sendiri.

Ketidakstabilan ekonomi berpotensi memperburuk situasi keamanan jika tidak dikelola dengan hati-hati. Kesenjangan kesejahteraan dapat menjadi pintu masuk bagi instabilitas baru.

Meski demikian, pemerintah menekankan pentingnya pendekatan realistis. Langkah-langkah kecil yang konsisten dipilih dibandingkan solusi besar yang berisiko gagal.

Suriah berada dalam fase menata ulang prioritas nasionalnya. Keamanan tidak lagi dipahami semata sebagai kemenangan militer, tetapi sebagai kemampuan negara bertahan dan berfungsi.

Dalam kondisi serba terbatas, upaya mendekatkan solusi satu per satu menjadi strategi utama. Pemerintah mencoba mempersempit masalah, bukan menyelesaikannya sekaligus.

Meski begitu, sejumlah proyek berhasil dilakukan. Mulai dari pemulangan bertahan pengungsi, penguasaana wilayah mencapai 90 persen lebih dari sebelumnya hanya 60 persen, redominasi mata uang dengan membuang tiga nol, mengembalikan ladang migas dari tangan SDF, kampanye rekonstruksi yang didanai oleh perantau di luar negeri, ratusan sekolah kembali berfungsi dari hanya bangunan rusak dan lain sebagainya.

Tantangan keamanan Suriah hari ini mencerminkan negara yang sedang mencari keseimbangan baru. Di antara tekanan global dan keterbatasan domestik, Suriah berjuang untuk menjaga keutuhan dan kelangsungan negaranya.