Pesawat Misterius dari Tiongkok
Drone supersonik keluarga Changkong milik Angkatan Udara Tiongkok kembali menyita perhatian setelah muncul detail teknis terbaru mengenai varian lanjutnya, CK‑2 dan Changkong‑20. Sistem ini tidak lagi sekadar target latihan, tetapi telah berkembang menjadi platform udara yang berada di ambang batas antara drone dan rudal jelajah berawak‑nol.
CK‑2 pertama kali terbang pada awal 1990‑an dan mencatat penerbangan supersonik sukses pada 1995. Keberhasilan ini menandai lompatan besar teknologi drone Tiongkok, terutama karena sudah menggunakan sistem kendali terbang digital, sesuatu yang belum umum pada UAV era tersebut.
Perkembangan paling signifikan terlihat pada kemunculan Changkong‑20, drone target supersonik generasi baru yang kini dilaporkan telah digunakan secara luas oleh militer Tiongkok. Bentuk luarnya dirancang menyerupai jet tempur generasi kelima, khususnya F‑22, dengan karakter siluman yang diperhitungkan secara serius.
Salah satu aspek paling mencolok dari Changkong‑20 adalah radar cross section (RCS) yang sangat kecil, hanya sekitar 0,003 meter persegi. Angka ini menempatkannya mendekati karakteristik siluman jet tempur generasi kelima, sekaligus menjadikannya target yang sangat sulit dideteksi radar.
Kecepatan maksimum drone ini mencapai sekitar 2.200 kilometer per jam atau Mach 1,8. Dengan kemampuan jelajah supersonik terbatas, Changkong‑20 melampaui karakter drone target konvensional yang umumnya hanya subsonik dan berprofil sederhana.
Secara dimensi, Changkong‑20 memiliki panjang hampir 10 meter dengan bobot lepas landas sekitar 4,8 hingga 5,5 ton. Ukuran ini membuatnya jauh lebih besar dibanding drone latihan biasa, dan secara fisik mendekati pesawat tempur ringan.
Konfigurasi aerodinamikanya menggabungkan elemen F‑22 dan F‑35, dengan penekanan pada stabilitas di kecepatan tinggi serta kemampuan manuver cukup agresif. Beban G maksimum mencapai 6g dengan kemampuan instan hingga 9g, angka yang lazim ditemukan pada pesawat tempur, bukan drone target.
Kemampuan inilah yang membuat Changkong‑20 menjadi lawan latihan ideal bagi jet siluman J‑20. Untuk pertama kalinya, Angkatan Udara Tiongkok mampu mensimulasikan pertempuran udara generasi kelima melawan target yang memiliki profil radar dan kinerja mendekati pesawat nyata.
Nilai strategis latihan semacam ini sangat tinggi. Data ofensif dan defensif dalam simulasi pertempuran jet siluman dianggap sebagai aset intelijen paling berharga, bahkan bagi negara‑negara besar yang memiliki hubungan dekat dengan Rusia sekalipun.
Di luar peran latihan, muncul pertanyaan penting: apakah sistem seperti Changkong‑20 bisa diperlakukan sebagai rudal? Secara konseptual, jawabannya semakin mendekati ya.
Dengan kecepatan supersonik, lintasan terprogram, tanpa pilot, dan potensi misi satu arah, Changkong‑20 memenuhi banyak karakteristik dasar rudal jelajah. Perbedaan utamanya hanya terletak pada metode lepas landas dan kemampuan pendaratan kembali.
Namun perbedaan ini bersifat opsional. Platform seperti Changkong‑20 dapat dengan mudah diubah menjadi sistem sekali pakai, baik sebagai umpan strategis maupun senjata serang presisi, hanya dengan perubahan kecil pada perangkat lunak dan muatan.
Laporan juga menyebutkan bahwa selain sebagai target udara, drone ini dapat dipasangi peralatan pengintaian dan sistem senjata. Dengan demikian, fungsinya tidak lagi terbatas pada latihan, melainkan juga misi tempur terbatas dan penembusan pertahanan udara.
Dalam skenario konflik nyata, platform semacam ini dapat digunakan untuk memancing radar, menguras stok rudal pertahanan udara lawan, dan membuka jalan bagi serangan utama. Pola ini identik dengan doktrin decoy modern yang selama ini dimonopoli negara Barat.
Jika digunakan secara ofensif, Changkong‑20 dapat berperan layaknya rudal jelajah supersonik berprofil siluman, dengan keunggulan fleksibilitas lintasan dan kemampuan bermanuver yang lebih besar dibanding rudal konvensional.
Keputusan Tiongkok mengembangkan drone target berteknologi tinggi ini juga mencerminkan pendekatan berbeda terhadap perang udara masa depan. Bagi Beijing, perbedaan antara drone, pesawat, dan rudal semakin kabur, yang penting adalah efek operasionalnya.
Berbeda dengan negara lain yang memisahkan ketat fungsi UAV dan rudal, Tiongkok memilih jalur hibrida, memanfaatkan kelebihan masing‑masing untuk menciptakan sistem multifungsi berbiaya relatif rendah.
Pendekatan ini membuat sistem lama seperti CK‑2 tidak usang, tetapi justru menjadi fondasi bagi platform generasi lanjut. Evolusi dari target drone menuju senjata potensial menunjukkan konsistensi strategi jangka panjang.
Dalam konteks ini, Changkong‑20 bukan sekadar alat latihan, melainkan demonstrasi bagaimana pesawat tanpa awak dapat berfungsi sebagai senjata strategis fleksibel. Ia bisa menjadi target, umpan, sensor, atau bahkan alat serang.
Dengan karakteristik tersebut, garis pembatas antara drone dan rudal memang semakin tipis. Yang tersisa hanyalah keputusan doktrin: apakah platform itu akan kembali ke landasan, atau diarahkan ke sasaran akhir tanpa rencana pulang.
Kasus Changkong‑20 memperlihatkan bahwa di tangan Tiongkok, drone supersonik bukan lagi sekadar bayangan pesawat tempur, melainkan bentuk baru kekuatan udara yang menggabungkan fungsi latihan, penipuan, dan potensi serangan dalam satu platform terpadu.
